Di Desa Buku Kanak

bagian dua:

50 meter dari gerobak bakso goreng, ada warung Mie Lurus Melintang. Lucu juga namanya. Terbayang sebungkus spaghetti mentah malang melintang di dalam wajan. Rival mengintip ke dalam.

Di tengah-tengah meja masing-masing ada tungku dan wajan besar. Mirip ala hotpot. “Boleh, Kakak, minya?” sambut seorang anak remaja.

Otak Rival berputar cepat mengarang cerita. “Saya cari Pak Adilamat. Ini restonya kan ya?”

“Pak Adilamat? Namanya bagus amat. Sayangnya tidak ada nama itu di sini.”

“Oh ya??” Rival pasang muka terkejut, tetapi matanya tertuju pada tamu warung yang menyobek bungkusan berbentuk persegi panjang. Panjangnya kira-kira satu setengah kali bungkus spaghetti. Minya memang lurus-lurus. Mungkin memang spaghetti. Atau soba?  Dari dalam bungkusannya, mi jatuh malang melintang ke dalam wajan. Ah, ini sih warmindo swasaji, namanya.

“Iya, betul, Kak! Jangankan Pak Adilamat, Bu Adildikit saja tidak ada! Hahaha!!” Anak remaja itu terkekeh mendengar leluconnya sendiri. Rival ikut tertawa. Kalau cuma ikut tertawa kan tidak perlu bayar.

Sekarang Rival berbelok ke kiri mengikuti arahan GagalMak. Katanya, setelah 320 meter, kantor kepala desa berada di sebelah kanan. Sebelum sampai 320 meter, ada toko Donat Kotak-Kotak di sebelah kiri dan di seberangnya ada toko Raja Minyak bersebelahan dengan kafe yang namanya Kafein Somania. Siapapun yang berjalan di trotoar ini pasti matanya tidak akan luput dari estalase toko Donat Kotak-Kotak. Lampu warna warni membingkai estalasenya. Langkah Rival terhenti. Dia mendongak ke atas. Kemudian ke estalase. Lalu ke atas lagi. Pada plang di atas tertera “donat”, tetapi yang terlihat di dalam estalase ini lebih mirip wafel.

Sebelum disapa lagi dengan, “Boleh, Kak, donatnya,” Rival cepat-cepat memalingkan mukanya ke seberang jalan sambil menempelkan HP di telinga seolah sedang menerima telepon. Di seberang jalan ada spanduk lebar terikat dengan tali, membentang di depan toko Raja Minyak. “Dari minyak jelantah sampai minyak jaitun, kami ada!” Demikianlah isi spanduk itu.

“Bahasa macam apa itu?” tanya Rival kepada dirinya sendiri.

Dirinya pun membalas, “Siapa pula yang peduli pada tata bahasa?”

Rival bertanya lagi, “Bukankah ini desa buku?”

Dirinya hening.

Tepat setelah 320 meter, bendera dengan bunga asoka berkibar-kibar di depan kantor kepala desa di sebelah kanan jalan. “Permisi. Selamat siang,” sapa Rival.

“Selamat siang,” balas seorang bapak berseragam coklat tua. “Ada yang bisa saya bantu?”

“Saya cari buku. Buku-bukunya di mana ya?”

“Judul bukunya apa ya, Pak? Kalau tahu judulnya, biasanya bisa dicari di internet.”

“Lho? Ini Desa Buku Kanak, bukan?”

“Betul sekali, Pak.”

“Bukunya di mana?”

“Boleh beritahukan judulnya, Pak? Saya bisa bantu carikan di internet. Jaman sekarang, jodoh saja bisa dicari di internet. Apalagi buku!”

Sekarang Rival jadi kepanasan luar dan dalam. Pegawai kantor kepala desa kok seperti ini? Parah benar. “Bolehkah saya bertemu dengan Ibu Kepala Desa?”

Bapak itu pun tersenyum lebar. Sungguh kontras dengan wajah Rival yang sudah masam. “Sedang dinas luar ke desa sebelah, Pak.”

“Kembalinya jam berapa?

“Tidak akan kembali, Pak.”

“Maksudnya bagaimana? Lengser?”

“Oh bukan, bukan! Itu tidak mungkin!”

“Ya kalau tidak akan kembali, lalu siapa yang jadi kepala desa?”

“Olala! Saya paham sekarang!” Si pegawai kantor kepala desa bagaikan baru memecahkan soal matematika yang sulit. “Bapak… eh, Bapak…siapa? Maaf…”

“Rival, Pak.” Rival mengulurkan tangan.

“Bapak Rival mau bertemu dengan Kepala Desa, Ibu Tini Yuno yaaa? Hehehe… Kalau itu baru tidak ada di internet.”

“Dan di sini pun tidak ada??”

“Kalau mau bertemu dengan Ibu Tini Yuno, datang saja ke sini hari Senin, Pak.”

“Ini kan baru hari Selasa. Memangnya dinas luarnya seminggu?”

“Memang ke sininya cuma hari Senin.”

“Huh! Pantas saja beliau tidak pernah tahu bahwa di desa buku tidak ada buku!!” Rival murka. Dia sudah begadang menunggu flash sale sambil kebat kebit berharap jaringan internetnya tidak tiba-tiba drop, sehingga dapat memenangkan tiket pesawat 99% off  ke Negeri Dongeng. Besoknya dia kesiangan bangun dan terlambat tiba di kantor. Seperti biasa, Ibu Bosirch, atasan langsungnya, mengabsen melalui WAG berkat kecanggihan teknologi yang sigap memberi laporan kepada Ibu Bosirch bahwa anak buahnya yang bernama Rivalaja Kotakut, terlambat memberi senyum pada mesin absensi. Sang Teknologi Canggih tersinggung, karena terlambat disapa. Kata siapa AI tidak punya sisi humanis? Alhasil, Rival dipanggil ke ruangan Ibu Bosirch. Padahal, Ibu Bosirch sendiri baru tiba di kantor.

“Memalukan sekali! Apa yang harus saya katakan nanti kepada pengganti saya?! Nanti dikira saya tidak bisa mengurus anak buah! Bah!”

Ketika duduk di bangku SMP, guru geografi Rival pernah mengajarkan bahwa jika seseorang sedang marah, tidak perlu ditanggapi. Hitung sampai seratus. Nanti dia akan berhenti sendiri. Petuah ini sungguh tak guna jika berhadapan dengan Ibu Bosirch. Rival tak menanggapi, dan Ibu Bosirich pun lanjut dengan kisah kehebatan karirnya mulai dari sekretaris sampai penjilat… eh, Asisten Direksi.

Rival berhenti menghitung di angka 189. Ganti strategi. Dia bayangkan indahnya Negeri Dongeng dan gunung buku di Desa Buku Kanak. Pemaparan Ibu Bosirch tentang bagaimana tanpa dirinya, jajaran direksi bagai anak ayam kehilangan induk itu sayup-sayup menerpa daun telinga Rival. Biarlah kubersusah-susah dahulu tetapi bersenang-senang kemudian, hibur Rival pada dirinya sendiri. Dan kini, akhirnya, tibalah Rival di Negeri Dongeng yang sudah dibayang-bayangkan gunung bukunya itu. Lalu satu buku pun tak terlihat.

“Memalukan sekali!” bentak Rival. Adik sekretaris yang kelihatannya seperti anak magang itu bangkit dari kursinya dan berlari ke luar. “Jak! Rujaaak!” teriaknya sambil tepuk tangan dan melambai silih ganti.

Geram Rival meningkat ke level 7. “Apa yang harus saya laporkan pada pemimpin redaksi saya jika satu bukupun tidak ada di sebuah desa yang bernama Desa Buku Kanak?!  Jangankan buku anak-anak, buku…”

“Pak Rival, tenang, Pak. Silakan duduk, Pak. Mau saya pesankan rujak? Mau ya? Abang yang itu…” bujuk pegawai kantor kepala desa sambil menunjuk pada abang rujak yang sedang cekikikan dengan adik sekretaris di depan pagar kantor kepala desa. “…terkenal bumbu rujaknya.”

“Saya bukan mau duduk! Bukan mau rujak juga. Saya mau buku!”

“Lho… Pak Rival bagaimana sih? Saya mau bantu, tetapi judul bukunya saja dirahasiakan.”

“Ya, sudah! Kenapa desa ini dinamakan Desa Buku Kanak?!”

“Ah… ketahuan nih. Pak Rival pasti suka sejarah ya? Tumben. Biasanya orang yang suka sejarah suka rujak.”

“Biasanya! Biasanya yang namanya mengandung kata ‘buku’ pasti ada bukunya! Misalnya, toko buku!”

“Olala!!” Si pegawai kantor kepala desa menepuk meja dengan telapak tangannya seraya bangkit berdiri. “Olala! Olala!! Jadi ini soal nama! Sini, Pak, saya tunjukkan.” Dia berjalan ke sebuah peta yang tertempel di dinding yang berada di belakang Rival. Rival membalikkan badannya.

“Ini ya, Pak, kita ada di sini. Dulu, desa ini, dan desa ini, dan desa ini merupakan satu teritori.” Pegawai kantor kepala desa menjelaskan dengan penuh semangat. Rival selalu saja hanyut bersama orang yang melakukan sesuatu dengan passion. Murkanya pun sirna. “Namanya manusia, ya macam-macam,” kata bapak pegawai yang menjelma menjadi dosen filsafat merangkap dosen sejarah. “Ada yang suka rujak dan ada yang suka buku. Namanya pemimpin, ya macam-macam juga. Tidak ada pemimpin yang bisa memuaskan semua orang. Betul tidak, Pak Rival?” Yang ditanya menganggukkan kepala. “Ada yang fokusnya di internal. Bangun sekolah, bangun jalan, bangun pagi… hehehe. Ada yang fokusnya di eksternal.”

“Seperti apa tuh, Pak?”

“Ah iya. Nama saya Inpo. Sampai lupa memperkenalkan diri saking serunya.”

“Eh. Oh. Iya. Pak Inpo. Fokus di eksternal itu seperti apa misalnya?”

“Fokus pada hal-hal yang ada di luar. Segala sesuatu dari luar diadopsikan di internal. Ada kalanya kurang cocok dengan kultur di internal, tetapi karena berasal dari luar, pasti keren punya. Karena itulah kami terpecah-pecah.”

“Terjadi perang saudara?”

“Ah! Tidak! Sejak purbakala, di Negeri Dongeng tidak pernah ada perang. Kami menjunjung nilai-nilai demokrasi.”

“Tetapi bukankah tadi Pak Inpo mengatakan bahwa dahulu ini semua…” Rival membuat lingkaran dengan telunjuknya pada peta di dinding, “…merupakan satu teritori?”

“Betul, Pak Rival. Dulunya satu teritori. Lalu karena adanya perbedaan selera itu, kami terbagi menjadi beberapa kubu. Bukan perang. Karena Negeri Dongeng ini negeri demokrasi, yang seleranya sama bergabung di satu kubu.”

“Wah, menarik ya, Pak Inpo.”

“Menarik sekali, Pak Rival. Pasti cuma Negeri Dongeng yang bisa begini. Hehehe.”

“Kalau Desa Buku Kanak itu kubu yang seleranya bagaimana? Tadi Pak Inpo mengatakan ada yang suka fokus di internal, dan ada yang suka fokus di eksternal. Namun, bukankah yang satu ini…” Rival membuat lingkaran lagi dengan telunjuknya, “…terpecah menjadi tiga?”

“Bukan ‘terpecah’, Pak Rival. Hati-hati. Kami bukan terpecah. Kami hanya berbagi sesuai demokrasi.”

“Oh ya, bukan terpecah. Mohon maaf, Pak Inpo.” Rival malas berdebat bahwa bukankah Pak Inpo yang lebih dulu mengatakan ‘terpecah’?

“Tidak apa. Kami maafkan. Hanya saja, di luar hati-hati jika bicara. Apalagi kan tadi Pak Rival mengatakan mau menulis ya? Ada sebut-sebut pemimpin redaksi…?”

“Ya, saya memang suka menulis.”

“Nah, itu dia. Masyarakat di sini sangat sensitif dengan kata ‘terpecah’.”

“Terima kasih sudah diperingati, Pak Inpo. Akan saya camkan baik-baik.”

“Bagus! Nah, untuk menjawab pertanyaan Pak Rival tadi, Desa Buku Kanak ini bukan dari kubu yang fokus di internal ataupun di eksternal. Di sini adalah kubu yang ketiga.”

“Kubu apa itu? Kubu netral?”

“Oh tidak, tidak! ‘Netral’ itu hanya untuk kaum pengecut. Di Negeri Dongeng, tidak ada pengecut. Jika ada, itu akan jadi kubu keempat.”

“Ya, ya, benar juga. Saya juga tidak suka dengan orang yang selalu mengatakan ‘netral’. Seakan tidak peduli. Seakan malas berpikir. Seakan tidak berani menyatakan pendapat. Seakan…” Rival mulai berapi-api.

“Nah, itu dia! Pak Rival sungguh cocok jadi penduduk Negeri Dongeng!”

Begitu mendengar ‘jadi penduduk Negeri Dongeng’, api di dada Rival padam seketika. “Kubu ketiganya apa?” tanya Rival.

“Kubu katak. Pak Rival tertarik bergabungkah?”

Bersambung…