Di Desa Buku Kanak
bagian tiga:
SALAH MEMAAFKAN SALAH
“Kubu apa, Pak??”
“Kubu Katak.”
“Katak? Singkatan dari apa?”
“Kok singkatan sih? Katak. Kodok.”
“Oh, ini katak betulan maksudnya ya?”
“Ya betulanlah! Dikira saya bohong ya? Pak Rival pernah lihat katak berenang?”
“Pernah.”
“Ketika seekor katak berenang, tangannya mendorong yang di atas dan menendang yang di bawah. Jika tidak demikian, dia tidak akan bisa maju. Nah, kubu yang satu lagi adalah kubu yang tidak memandang internal ataupun eksternal. Apa pun, jika menghalangi kemajuan, harus didorong atau ditendang.”
Rival termenung. Sejak mendarat di bandara Negeri Dongeng, dia sudah dibuat terkesima oleh banyak hal, kendati pun belum ada satu hari dilewatkan di negeri ini. Pertama, disambut oleh patung penguin dan katak tertawa di bawah terik mentari. Lalu ada warmindo swasaji, toko donat jualan wafel, toko minyak serba ada, desa buku tanpa buku, hingga falsafah demokrasi yang tidak boleh terpecah tetapi boleh ter…? Inikah yang namanya kenyataan itu lebih ajaib daripada dongeng?
Inpo menghitung sampai lima puluh lima. Rival masih diam. Maka, Inpo pun melanjutkan. “Kami di sini adalah kubu yang tidak suka membeda-bedakan apakah internal atau eksternal. Yang terpenting adalah kemajuan. Kalau menurut Pak Rival bagaimana? Kalau Pak Rival tinggal di Negeri Dongeng, kira-kira lebih cocok di kubu mana?”
Tinggal di Negeri Dongeng? Aduh. Jangan. Bisa mati bingung. Dengan mata menatap peta di dinding, Rival balik bertanya, “Dekat-dekat sini ada perpustakaan, Pak Inpo?”
“Perusahaan? Ada beberapa. Pak Rival cari perusahaan apa?”
“Bukan perusahaan. Perpustakaan. Perpustakaan sekolah juga tidak apa, jika diperkenankan masuk. Sejarah desa ini menarik sekali. Barangkali ada buku-buku tentang itu. Saya mau baca.”
“Wah, sekolah tidak boleh dijadikan perusahaan, Pak! Itu melanggar hukum agama.”
“Memalukan sekali!” Hampir saja kata-kata itu keluar dari mulut Rival untuk kedua kalinya. Rival menghirup napas dalam-dalam. Lalu katanya sungguhan, “Saya ingin tahu asal usul nama ‘Desa Buku Kanak’. Tadi belum diceritakan kan?”
“Oh iya ya. Tentang nama, tidak ada cerita apa-apa. Hanya salah cetak. Khilaf.”
“Salah cetak?? Seharusnya??”
“Ya tentu ‘Desa Kubu Katak’ sesuai prinsipnya.”
“Jika salah cetak, mengapa tidak minta direvisi saja?”
“Tidak perlulah. Manusia kan memang bisa khilaf. Wajar. Harus dimaklumi.”
“Lho? Jadi dibiarkan salah walaupun tahu bahwa itu salah?”
“Oh bukan kami biarkan. Kami lupakan. Kubu kami tidak suka mengingat-ingat masa lalu. Seperti katak ketika berenang, sudah kami tendang jauh-jauh.”
Rival menyandarkan punggungnya yang lemas pada dinding yang ada petanya. Tulisan “Desa Buku Kanak” jadi berada tepat di balik pundak kanannya. Bagaimana bisa melupakan jika yang salah cetak itu terpampang besar-besar di depan kantor kepala desa dari terbitnya matahari hingga terbenamnya? Di atas meja adik sekretaris terlihat beberapa lembar kertas dengan kop “Desa Buku Kanak”. Papan petunjuk di halte TransKodok tadi juga bertulisan “Desa Buku Kanak”. Bagaiamana bisa melupakan jika kesalahan itu ada di mana-mana?
“Bagaimana bisa dikatakan sudah ditendang jauh-jauh, jika tulisan yang salah itu ada di mana-mana?” tanya Rival.
“Pak Rival, bayangkanlah jika Pak Rival ada di posisi tukang yang membuat plang di depan kantor ini.”
“Oke…” Rival memejamkan mata dan mulai membayangkan.
“Pak Rival kan manusia. Jadi Pak Rival pasti tidak luput dari kesalahan, bukan?”
“Tentu.”
“Bagaimana jika Pak Rival berbuat kesalahan lalu kesalahan itu terus diingat-ingat? Pasti tidak enak kan?”
Rival membuka matanya. “Namun saya akan…” Namun sebelum Rival menyelesaikan kalimatnya, Inpo lekas menimpali. “Akan senang jika dimaafkan, bukan? Itulah yang kami lakukan di sini! Lalu untuk menjaga hubungan baik dengan pihak percetakan, kami membuat aturan agar publikasi berikutnya, dalam bentuk apa pun, harus menuliskan ‘Desa Buku Kanak’.
“Mengapa ketika plang itu baru jadi dan ternyata salah cetak, tidak ada yang minta untuk direvisi?”
“Ah, bapak ini nampaknya masih sulit memahami konsep memaafkan. Karena kami sudi memaafkan, maka kami menjaga perasaan orang. Seperti yang saya tanyakan tadi, coba bayangkan jika Pak Rival ada di posisi yang membuat plang? Karena kami sudah memaafkan, kami bisa melupakan.”
“Meskipun kesalahan itu bertebaran di mana-mana?”
“Itulah kekuatan dari memaafkan, Pak Rival!”
“Bagaimana dengan Ibu Tini Yuno? Apakah tidak ada keberatan dari beliau?”
“Tidak ada sama sekali. Sebagai menantu yang baik, sudah merupakan kewajibannya untuk menjunjung pekerjaan mertua dalam susah atau senang, dalam sakit atau…”
“Kalau begitu, artinya ada dimensi satu lagi,” sahut Rival memotong kalimat Inpo. “Bukan cuma karena sudah memaafkan, tetapi juga karena mau berbakti sebagai menantu. Maka, meskipun kesalahan bertebaran di mana-mana, beliau bisa… apa ya istilahnya? Bisa…? Tutup mata?”
“Oh tidak, tidak! Sama sekali bukan tutup mata! Beliau sama sekali bukan orang yang suka tutup mata!”
“Hebat! Saya tidak bisa bayangkan bakti seorang menantu yang sedemikian besarnya. Tadi Pak Inpo suruh saya bayangkan jadi orang yang bikin plang. Sekarang saya bayangkan jadi kepala desa. Pagi mau berangkat kerja, lihat papan penunjuk jalan yang salah nama desanya. Tiba di kantor, tulisan salah sudah menyambut di halaman. Mau tanda tangan surat, kop di atasnya salah cetak nama desa. Kalau saya, lebih baik minta cerai! Bukankah kata Pak Inpo tadi, jodoh di internet pun bisa dicari?”
“Hahaha. Bisa saya bayangkan. Pasti akan sangat menyesakkan kalau bisa baca tulisan di papan petunjuk jalan, di peta, di kop surat, bahkan di sosial media, dan lain sebagainya. Di sanalah keberuntungan Ibu Tini Yuno yang tidak dimiliki semua orang.”
“Kenapa bisa jadi keberuntungan?”
“Nah, itu dia! Itulah keberuntungan desa kami yang bisa melihat suatu keberuntungan! Sering kali keberuntungan itu ada, tetapi kita tidak mampu melihatnya. Kami, mampu melihat bahwa pemimpin yang tidak bisa membaca seperti Ibu Tini Yuno adalah sebuah keberuntungan. Kami jadi punya pemimpin yang bisa menikmati hidup, damai, dan tidak stres. Saya yakin, Pak Rival pasti pernah baca berita pasien rumah sakit jiwa massal di Negeri Doni. Mereka stres, Pak Rival! Stres! Cuma gara-gara baca tulisan di sosial media! Bayangkan! Apa bukan gila itu namanya?”
“Ini memang gila sih…” ucap Rival lirih. “Bagaimana dengan buku-buku di sekolah? Di sekolah pasti ada buku kan?”
“Tentu! Kami memiliki Divisi Komunikasi. Ibu Tini Yuno sangat membanggakannya. Pekerjaan apapun dipercayakan kepada Divisi Komunikasi. Seperti yang saya terangkan tadi, kami tidak suka membedakan apakah internal atau eksternal. Semua pekerjaan, mulai dari melap kaca jendela hingga menerbitkan buku, diserahkan kepada Divisi Komunikasi.”
“Nama desa yang ditulis di buku pelajaran sekolah itu jadinya apa?” tanya Rival.
“Tentu saja ‘Desa Buku Kanak’. Itu kan sudah jadi aturan tertulis. Kami konsekuen.”
TAMAT

