Di Desa Buku Kanak

bagian satu:

Bukan main panasnya Negeri Dongeng ini! Rival ingin cepat-cepat menuruni tangga pesawat dan berlari menuju gedung bandara, tetapi di depannya seorang wanita paruh baya tertatih-tatih menuruni tangga setapak demi setapak sementara kedua tangannya berpegangan erat pada pagar anak tangga. Ujung syal ibu itu berkibar-kibar di atas muka Rival, sehingga Rival kesulitan bernapas dan menjadi semakin kepanasan. Mata Rival mulai perih; entah karena ada serabut syal yang masuk ke kelopak matanya, atau karena parfum aroma kamper dari syal itu, atau keduanya.

Tepat di anak tangga terakhir, angin berhenti bertiup. Terjuntai jatuhlah syal itu di lengkung punggung sang ibu. Bebas muka Rival! Rasanya bagai baru keluar dari gua. Rival menghirup udara sebanyak-banyaknya. Huahhh! Setengah berlari, Rival bergegas menuju arah gedung bandara. Saat ini cuma satu yang dia butuhkan: AC. Dia tidak peduli dengan orang-orang yang sibuk mengambil gambar di depan patung penguin dan katak yang konon merupakan lambang Negeri Dongeng. Ah, lagipula penguin mana yang tidak meleleh di tempat sepanas ini? Ada-ada saja.

“Kak, boleh minta tolong fotoin?” Tiba-tiba pemuda berusia 20-an berdiri di depan Rival, menghentikan langkahnya. Seakan telah membaca raut muka kesal Rival, si anak muda lekas-lekas menambahkan, “Sekaliii aja, Kak! Please?” Belum sempat Rival menjawab, dari arah patung penguin–katak terdengar, “Abang! Cepatlah! Panas nih!” Si anak muda menjejalkan HP-nya ke dalam tangan Rival bagai menyematkan amplop suap, lalu putar badan dan berlari kepada yang memanggil ‘Abang’.

Jika Rival melanjutkan bergegas menuju gedung bandara, pastilah dia akan diteriaki “Copet!” Jadi, ya sudahlah. Dengan HP di tangannya itu, Rival mengukur jarak dan mengatur frame. Si Abang berdiri di samping katak dengan satu tangan di dalam mulut katak dan satu tangan lagi menggenggam tangan si Adik. Tangan si Adik yang satu lagi merangkul leher penguin. Kaki mereka sama-sama disilangkan. Jadilah si Penguin dan si Katak dipautkan oleh sebuah hati buatan tangan si Abang dan si Adik.

Kemudian, bagai prajurit yang kembali dari sikap istirahat, si Abang menarik kedua tangannya, meluruskan kakinya, lalu berlari ke Rival untuk mengambil HP-nya. “Makasih ya, Kak! Kakak dari Negeri Doni?”

Rival tak menjawab.

Di dalam gedung bandara, sambil berdiri di bawah AC, Rival mengecek aplikasi peta GagalMak di HP-nya. Dari sini naik bus bandara sampai Desa Naif. Dari Desa Naif naik TransKodok sampai Desa Buku Kanak. Sip!

Jika kau tanyakan kepada Rival, masa kanak-kanak apa yang paling tak terlupakan, pasti jawabannya adalah ketika bapak atau ibu membacakan buku. Rival bolehlah dikatakan lahir di tengah buku. Rak-rak buku di rumahnya menjulang tinggi hingga ke langit-langit rumah. Asisten rumah tangganya yang kala itu ia sapa “Bibi” pun gila membaca. Mulai dari surat kabar dan majalah langganan orang tuanya hingga majalah anak-anak miliknya jadi santapan Bibi. Ayah Rival sampai harus membuat peraturan giliran membaca antara Rival dan Bibi.

Maka, ketika Rival melihat “Desa Buku Kanak” pada aplikasi peta “GagalMak”, hatinya berdebar-debar. Mungkin kubisa kembali mengenang masa kanak-kanakku, pikirnya. Dalam benaknya terbayang harumnya kertas cetak— aroma yang memberi rasa nyaman. Ketika kecil (sekarang pun masih), Rival suka membenamkan wajahnya ke dalam buku yang terbuka, lalu menghirup napas dalam-dalam. “Ih, bau tahi!” teriak teman sebangkunya. Ah, itu masalah persepsi saja.

“Bang, saya mau makan bareng, tapi apa Abang tidak kekenyangan menemani pembeli makan sejak pagi?”

“Wah, tidak sempatlah! Kalau pagi, di sini ramai sekali! Banyak yang beli buat cemilan di kantor. Kata mereka, enakan bakso saya daripada menu di kantin kantor. Hehehe.” Perut buncitnya menggelembung seperti bakso.

“Oh, buat dimakan bareng-bareng teman di kantor ya?”

“Wah, kalau itu, saya kurang tahu. Urusan orang. Saya tidak mau ikut campur.”

“Saya mau pesan, tetapi nanti malam saya tinggal sendiri. Jadi bingung.”

“Coba cari di internet. Biasanya bisa dipesan lewat internet,” usul abang bakso.

“Pesan bakso?”

“Bukan, bukan.” Abang bakso menurunkan volume suaranya, “Pesan itu lho… buat teman malam-malam.”

Rival celingukan lagi. Kenapa si abang harus berbisik-bisik? Takut terdengar pesaing? Tiba-tiba,

“Bang, barengnya lima. Biasa ya, Bang,” terdengar di sampingnya seorang ibu berusia sekitar 40-an. “Yang tiga ori. Yang dua sausnya level 5.” Tiba-tiba,

“Oh… ‘Bareng’ itu singkatan ‘Bakso Goreng’ yaaa!” seru Rival.

Abang bakso dan ibu pembeli berbarengan: “Iyaaa.”

“Hahaha!” Rival menertawai dirinya sendiri. “Saya mau bareng tiga. Sausnya level 5 juga.” Buat persediaan makan malam di hotel, tambah Rival (dalam hati).

Ibu pembeli menepuk pundak Rival. “Wah, bareng nih!” Rival berdiri kaku.

Bersambung…